SEJARAH PERKEMBANGAN TASAWUF SALAFI (AKHLAK), FALSAFI DAN SYI'I

SEJARAH PERKEMBANGAN TASAWUF
            Perkembangan tasawuf dalam Islam telah mengalami beberapa fase yang dapat diringkas sebagai berikut:
            Fase pertama perkembangan tasawuf, yang disebut fase asketisisme, tumbuh pada abad pertama dan kedua Hijriyah. Pada saat ini, dalam kalangan muslim, terdapat individu-individu yang lebih memusatkan dirinya pada ibadah. Mereka ini menjalankan konsepsi asketis dalam kehidupan, yaitu tidak mementingkan makanan, pakaian maupun tempat tinggal. Mereka lebih banyak beramal untuk hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan dan tingkah laku yang asketis. Di antara mereka ialah Hasan al-Bashri (w. 110 H) dan Rabilah al-Adawiyah (w. 185 H)[1]
            Sejak abad ketiga Hijriyah para sufi mulai menaruh perhatian terhadap hal-hal yang berkaitan dengan jiwa dan tingkah laku. Doktrin-doktrin dan tingkah laku sufi berkembang ditandai dengan moral yang karakteristik, sehingga di tengah mereka tasawufpun berkembangmenjadi ilmu moral keagamaan. Pembahasan-pembahasan mereka tentang moral, akhirnya, mendorong mereka untuk semakin mengkaji masalah serta hal-hal yang berkaitan akhlak. Dan ini merangsang mereka untuk memperbincangkan pengetahuan intuitif berikut sarana serta metodenya, dan perbincangan tentang zat Ilahi dalam hubunganNya dengan manusia, atau hubungan manusia dengan-Nya, yang kemudian disusul dengan perbincangan tentang fana, khususnya oleh Abu Yazid al-Busthami.


[1] Dr Abu al-Wafa at-Ghanimi al-Taftazani, Sufi dari Zaman, Pustaka Bandung, 1985. Hal, 16-17

Komentar